Blog ini berisi tentang artikel Keperawatan Kegawatdaruratan sebagai sarana menulis sambil belajar
Monday, January 20, 2020
Unit Gawat Darurat
Unit Gawat Darurat
![]() |
| https://pixabay.com/id/photos/rumah-sakit-ruang-gawat-darurat-1636334/ |
Saturday, December 7, 2019
Analisis Literatur Manajemen Resusitasi Trauma Kepala
Analisis
Literatur
Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen
dan glukosa. Meskipun otak hanya seberat 2 % dari berat badan orang dewasa, ia
menerima 20 % dari curah jantung. Sebagian besar yakni 80 % dari glukosa dan
oksigen tersebut dikonsumsi oleh substansi kelabu (Teranishi, Kohsuke et all,
2012). Proses lanjutan yang sering terjadi adalah gangguan suplai untuk sel
yaitu oksigen dan nutrien, terutama glukosa. Kekurangan oksigen dapat terjadi
karena berkurangnya oksigenasi darah akibat kegagalan fungsi paru, atau karena
aliran darah otak menurun, misalnya akibat syok. Karena itu pada cedera kepala
harus dijamin bebasnya jalan nafas, gerakan nafas yang adekuat dan hemodinamik
tidak terganggu, sehingga oksigenasi tubuh cukup. Gangguan metabolisme jaringan
otak akam menyebabkan edem yang mengakibaykan hernia melalui foramen tentorium,
foramen magnum, atau herniasi dibawah falks serebrum (Appleby, Ian et all,
2010).
Jika terjadi herniasi jaringan otak yang bersangkutan
akan mengalami iskemik sehingga dapat menimbulkan nekrosis atau perdarahan yang
menimbulkan kematian. Hukum Monroe Kellie mengatakan bahwa ruang tengkorak
tertutup dan volumenya tetap. Volume dipengaruhi oleh tiga kompartemen yaitu
darah, liquor, dan parenkim otak. Kemampuan kompensasi yang terlampaui akan
mengakibatkan kenaikan TIK yang progresif dan terjadi penurunan Tekanan Perfusi
Serebral (CPP) yang dapat fatal pada tingkat seluler. Penurunan CPP kurang dari
70 mmHg menyebabkan iskemia otak. Iskemia otak mengakibatkan edema sitotoksik –
kerusakan seluler yang makin parah (irreversibel). Diperberat oleh kelainan
ekstrakranial hipotensi/syok, hiperkarbi, hipoksia, hipertermi, kejang, dll.
Pemberian cairan-cairan Kristaloid (Ringer Laktat, Ringer Asetat) mempercepat
koreksi hipovolemia. HOLCROFT menganjurkan pemberian RL 2000 ml secepat
mungkin. Jika hemodinamik masih belum baik ditambah 1000 ml lagi dalam waktu 10
menit. Dengan demikian masa hipovolemia, vasokonstriksi, penurunan perfusi
organ dan hipoksia jaringan dapat dipersingkat. Penelitian SHIRES dan CANIZARO
yang dikutip EDDY R menunjukkan bahwa angka kematian karena syok hipovolemik
perdarahan pada kelompok yang diberi ringer laktat disamping transfusi. Karena
sebagian dari ringer laktat meresap keluar pembuluh darah maka Menurut Hukum
Starling, ekspansi PV (20%) dan ISV (80%). Jumlah ringer laktat yang diperlukan
2-4 kali volume darah (Brasel, Karen et all, 2008. Guerrero, Egea et all,
2014).
Ringer laktat tidak memperberat asidosis laktat.
Volume yang diberikan memperbaiki sirkulasi dan transpor oksigen kejaringan,
sehingga metabolisme aerobik bertambah dan produksi asam laktat berkurang.
Sirkulasi yang membaik akan membawa timbunan asam laktat ke hati di mana asam
laktat melalu siklus krebb diubah menjadi HCO3 yang menetralisir asidosis
metabolik. Cairan koloid meiliki tekanan onkotik mirip plasa dan tinggal dalam
pembuluh darah lebih lama. Devisit PV dan tekanan darah kembali normal lebih
cepat. Ada dua macam cairan koloid yaitu derivat plasma protein (Albumin,
Plasma Protein Fraction) dan bahan sistemik yakni plasma substitusi (dulu
disebut Plasma Expander). Albumin adalah cairan yang paling fisiologis, tetapi
harganya sangat mahal. Banyak peneliti menyatakan bahwa larutan albumin
isotonis tidak memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan RL atau plasma
substitusi. Penggunaan NaCl hipertonis dengan kadar 7,5% dalam volume kecil
untuk mengganti perdarahan mulai banyak diteliti (Brasel, Karen et all, 2008.
Davis et all, 2012. Guerrero, Egea et all, 2014).
Strategi
Penerapan
Paada
Cedera Kepala Tingkat I Penanganannya mencakup anamnesa yang berkaitan dengan
jenis dan waktu kecelakaan, riwayat penurunan kesadaran atau ringan, riwayat
adanya amnesia (retrogradi) serta keluhan-keluhan lain yang berkiatan dengan
peningkatan tekanan intrakranial seperti : nyeri kepala, pusing dan muntah.
Amnesia retrograde cenderung merupakan tanda ada tidaknya trauma kepala.
Sedangkan amnesia antegrade (pasca trauma) lebih berkonoasi akan berat
ringannya konstruksi cedera kepala yang terjadi. Cedera Kepala Tingkat II
Penanganan pertama selain mencakup anamnesa dan pemeriksaan fisik serta foto
polos tengkorak, juga mencakup pemeriksaan sken tomografi komputer otak. Pada
tingkat ini semua kasus mempunyai indikasi untuk dirawat. Selama hari pertama perawatan
di rumah sakit perlu dilakukan pemeriksaan neurologis setiap setengah jam
sekali, sedangkan follow up sken tomografi komputer otak pada hari ke 3 atau
bila ada pemburukan neurologis. Cedera Kepala Tingkat III Penderita kelompok
ini tidak dapat mengikuti segala perintah sederhana sekalipun setelah
stabilisasi kardiopulmoner. Walaupun definisi ini masih belum mencakup
keseluruhan spektrum cedera otak, kelompok kasusnya adalah dikategorikan
sebagai yang mempunyai resiko terbesar berkaitan dengan morbiditas dan
mortalitas, dimana tindakan “menunggu” (wait and see) disini dapat berakibat
sangat fatal (Appleby, Ian et all, 2010. Teranishi, Kohsuke et all,
2012).
Penanganan
kasus-kasus yang termasuk kelompok ini mencakup tujuh tahap yaitu : Stabilitas
kardiopulmoner mencakup prinsip-prinsip ABC (Airway-Breathing-Circulating)
Keadaan-keadaan hipoksemia, hipotensi dan anemia akan cenderung memperhebat
peninggian tekanan intrakranial dan menghasilkan prognosis yang lebih buruk.
Semua penderita cedera kepala tingkat lanjut memerlukan intubasi. Pemeriksaan
umum untuk mendeteksi berbagai macam cedera atau gangguan-gangguan di bagian
tubuh lainnya. Pemeriksaan neurologis mencakup respon mata, motorik, verbal,
pemeriksaan pupil, refleks okulosefalik dan refleks okulovestibuler. Penilaian
neurologis kurang bernilai bila tekanan darah penderita masih rendah (syok).
Penanganan cedera-cedera di bagian lainnya. Pemberian pengobatan seperti :
antiedema serebri, anti kejang dan natrium bikarbonat (R. Shayn Martin and J. Wayne
Meredith).
Pedoman
umum penatalaksanaannya pada semua pasien dengan cedera kepala dan/atau leher,
lakukan foto tulang belakang servikal, kolar servikal baru dilepas setelah
dipastikan bahwa seluruh tulang servikal C1-C7 normal. Pada semua pasien dengan
cedera kepala sedang dan berat, lakukan prosedur : pasang jalur intravena
dengan larutan salin normal (NaCl 0,9%) atau larutan Ringer Laktet : cairan
isotonis lebih efektif mengganti volume intravaskuler daripada cairan
hipotonis, dan cairan ii tidak menambah edem serebri. Lakukan pemeriksaan
hamatokrit, periksa darah perifer lengkap, trombosit, kimia darah : glukosa,
ureum, dan kreatinin, masa protrombin atau masa tromboplastin parsial, skrining
toksikologi dan kadar alcohol bila perlu (Damkliang, Jintana, et all. 2014).
Pada
2448 jam pertama, pemberian cairan dibatasi sampai 15002000 ml/24 jam agar
tidak memperberat edema jaringan. Larutan Ringer Laktat merupakan cairan
kristaloid yang paling banyak digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis
dengan susunan yang hampir menyerupai cairan intravaskuler. Laktat yang
terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metabolisme di hati menjadi
bikarbonat. Cairan kristaloid lainnya yang sering digunakan adalah NaCl 0,9%,
tetapi bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik
(delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar bikarbonat plasma
akibat peningkatan klorida. Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid
dimana kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan
dengan koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan
di ruang interstitiel (Guerrero, Egea et all, 2014. Harris, Tim et all. 2012).
Pada
suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit larutan
kristaloid akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema perifer dan paru
serta berakibat terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka,
apabila seseorang mendapat infus 1 liter NaCl 0,9. Selain itu, pemberian cairan
kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya
tekanan intra kranial. Cairan Koloid Disebut juga sebagai cairan pengganti
plasma atau biasa disebut “plasma substitute” atau “plasma expander” (Harris,
Tim et all. 2012). Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang mempunyai
berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini
cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskuler.
Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan secara cepat
terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan
hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar)
dalam hal ini cairan koloid yang bisa digunakan adalah albumin (Davis et all,
2012).
Mekanisme
secara umum larutan kristaloid menembus membran kapiler dari kompartemen
intravaskuler ke kompartemen interstisial, kemudian didistribusikan ke semua
kompartemen ekstra vaskuler. Hanya 25% dari jumlah pemberian awal yang tetap
berada intravaskuler, sehingga penggunaannya membutuhkan volume 3-4 kali dari
volume plasma yang hilang. Bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi
sejumlah cairan kedalam pembuluh darah dengan segera dan efektif untuk pasien
yang membutuhkan cairan segera. Cairan kristaloid bersifat mudah keluar dari
intravaskuler, terutama pada kasus dimana terjadi peningkatan resistensi
kapiler seperti pada sepsis. Pada kondisi tersebut, penting untuk dipikirkan
penggantian cairan yang memiliki molekul lebih besar, yaitu jenis koloid
(Albumin) (Brasel, Karen et all, 2008. Davis et all, 2012. Harris, Tim et all.
2012).
Normal
Saline Komposisi (mmol/l) : Na = 154, Cl = 154. Kemasan : 100, 250, 500, 1000
ml. Indikasi : Resusitasi Pada kondisi kritis, sel-sel endotelium pembuluh
darah bocor, diikuti oleh keluarnya molekul protein besar ke kompartemen
interstisial, diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke intertisial karena
gradien osmosis. Plasma expander berguna untuk mengganti cairan dan elektrolit
yang hilang pada intravaskuler (Ogilvie, Michael et all, 2010).
Konsep
resusitasi cairan pada pasien perdarahan akut telah mengalami beberapa kali
perubahan. Pada waktu perang Korea pengganti perdarahan dilakukan semata-mata
dengan transfusi darah. Banyak kesulitan yanig dialami, selain penyediaan darah
memang sulit, transfusi sendiri perlu waktu lama dibanding apa yang kita
kerjakan sekarang dengan cairan yang dapat di berikan cepat. Dengan demikian
“shock time” berlangsung panjang dengan akibat lactic acidosis dan cumulative
oxygen debt tinggi dan angka kematian yang tinggi (Damkliang, Jintana, et all.
2014). Dari percobaan Wiggers dan pengembangan resusitasi dengan ringer laktat
oleh Tom Shires dan kawan – kawan pada waktu perang Vietnam, terjadi perubahan
prognosis berarti Ringer laktat atau cairan berisi Natrium lainnya dapat
digunakan untuk mengganti darah yang hilang sampai suatu jumlah tertentu. Kasus
– kasus perdarahan adalah sangat bervariasi. Ada berbagai mekanisme kehilangan
darah yang pada akhirnya bermuara pada satu kesamaan yaitu syok hipovolemik.
Resusitasi cairan cepat dapat mengatasi syok ini dengan cepat atau pada banyak
kasus dimana cairan diberikan sejak awal, dapat mencegah terjadinya syok dengan
segala konsekwensi metabolik dan biomolekuler yang mengiringinya. Penundaan
resusitasi cairan cepat akan sangat merugikan karena membiarkan syok time
berjalan lebih lama. Faktor – faktor yang selalu harus dipertimbangkan adalah
seberapa lama kita boleh mentoleransi “shock time” dan hal ini tergantung pada
fasilitas terapi definitif yang dapat kita siapkan dalam suatu waktu tertentu.
Jika shock time diramalkan dapat menjadi panjang, mungkin lebih bijaksana jika
kita memberikan resusitasi cairan dini untuk mengurangi atau menghilangkan
syok. Batas waktu / golden periode satu jam untuk syok hendaknya menjadi
pegagan utama. Yang dapat dipakai sebagai ekspander / substitut volume, selain
darah adalah golongan kristaloid dan koloid (Guerrero, Egea et all, 2014).
Golongan kristaloid yang paling mirip dengan cairan ektraseluler adalah Ringer
laktat. Cairan ini mempunyai kadar – kadar fisiologis sesudah infus, setelah
terjadi metabolisme hepatik laktat menjadi bikarbonat. Ringer laktat dapat
diberikan dengan aman dalam jumlah besar pada pasien dengan kondisi seperti
hipovolemi dengan asidosis metabolik, kombustio, sindroma syok, komponen
bikarbonat memberikan efek dapar yang dibutuhkan untuk mengatasi asidosis.
Larutan garam seimbang lain yang sekarang tersedia dibuat dengan memakai
Natrium asetat (Ringer Asetat) sebagai ganti laktat (Brasel, Karen et all,
2008.).
Koloid
(Albumin) dapat mengembalikan volume plasma secara lebih efektif dan efesien
dari pada kristaloid dipasarkan terdapat berbagai macam koloid (Ogilvie,
Michael et all, 2010). Penentuan pilihan yang rasional hendaknya berdasarkan
fisiologi kompartemen cairan tubuh dan efek berbagai cairan intra vena terhadap
masing-masing kompartemen. Penting pula memahami perubahan-perubahan yang
terjadi dalam kompartemen kompartemen tersebut pada penyakit dan cedera. Koloid
adalah cairan yang mengandung partikel onkotik dan karenanya menghasilkan
tekanan onkotik. Bila diberikan intravena, sebagian besar akan menetap dalam
ruang intravaskuler. Darah dan produk darah seperti albumin menghasilkan
tekanan onkotik karena mengandung molekul protein besar. Koloid artifial juga
mengandung molekul besar seperti gelatin, dektran atau kanji hidrosietil.
Meskipun semua larutan koloid akan mengekspansikan ruang intravaskuler, koloid
yang mempunyai tekanan onkotik lebih besar dari pada plasma akan menarik pula
cairan keruang intravaskuler. Ini dikenal sebagai ekspander plasma sebab
mengekspansikan volume plasma lebih dari pada yang diberikan (Davis et all,
2012. Guerrero, Egea et all, 2014).
Kesimpulan
Cedera
kepala bisa menyebabkan kematian atau penderita bisa mengalami penyembuhan
total. Jenis dan beratnya kelainan tergantung kepada lokasi dan beratnya
kerusakan otak yang terjadi. Berbagai fungsi otak dapat dijalankan oleh
beberapa area, sehinnga area yang tidak mengalami kerusakan bisa menggantikan
fungsi dari area lainnya yang mengalami kerusakan. Status vegetatif kronis
merupakan keadaan tak sadarkan diri dalam waktu yang lama, yang disertai dengan
siklus bangun dan tidur yang mendekati normal. Keadaan ini merupakan akibat
yang paling serius dari cedera kepala yang non-fatal. Jika status vegetatif
terus berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, maka kemungkinan untuk
sadar kembali sangat kecil. Maka dalam hal ini diperlukan penatalaksanaan
resusitasi yang baik untuk mencegah status vegetatif dari pasien dengan cedera
kepala. Resusitasi dengan cara penggantian dan pemberian cairan.
Tubuh
mengandung 60 % air yang disebut juga cairan tubuh. Cairan tubuh didalamnya
terkandung nutrisi-nutrisi yang amat penting peranannya dalam metabolisme sel,
sehingga amat penting dalam menunjang kehidupan. Terapi cairan parenteral
digunakan untuk mempertahankan atau mengembalikan volume dan komposisi normal
cairan tubuh. Dalam terapi cairan harus diperhatikan kebutuhannya sesuai usia
dan keadaan pasien, serta cairan infus itu sendiri. Jenis cairan yang bisa
diberikan untuk terapi cairan adalah cairan kristaloid (Saline) dan cairan
koloid (Albumin).
Daftar
Pustaka
Appleby,
Ian et all, 2010. Traumatic brain injury: initial resuscitation and transfer.
ANAESTHESIA AND INTENSIVE CARE MEDICINE 9:5
Brasel,
Karen et all, 2008. Hypertonic Resuscitation: Design and Implementation of a
Prehospital Intervention Trial. 2008 by the American College of Surgeons ISSN
1072-7515/08/.Published by Elsevier Inc. doi:10.1016/j.jamcollsurg.2007.07.020
Davis
et all, 2012. What’s new in resuscitation strategies for the patient with
multiple trauma? Injury, Int. J. Care Injured 43 (2012) 1021–1028
Damkliang,
Jintana, et all. 2014. Initial emergency nursing management of patients with
severe traumatic brain injury:Development of an evidence-based carebundle for
the Thai emergency department context. Australasian Emergency Nursing Journal
Dinh,
Michael et al. 2013. Redefining the golden hour for severe head injury in an
urban setting: The effect of prehospital arrival times on patient outcomes.
Injury, Int. J. Care Injured 44 (2013) 606–610
Franschman
et all, 2012. Effects of physician-based emergency medical service dispatch in
severe traumatic brain injury on prehospital run time. Injury, Int. J. Care
Injured 43 (2012) 1838–1842
Guerrero,
Egea et all, 2014. UPDATE Resuscitative goals and new strategies in severe
trauma patient resuscitation. MEDINE-701; No. of Pages 11
Hall,
Catherine et all, 1997. Patient management in head injury care: a nursing
perspective Intensive and Critical Care Nursing (I 997) 13,329-337 © 1997
Harcourt Brace and Co. Ltd
R.
Shayn Martin and J. Wayne Meredith. Management Of Acute Trauma. Chapter 18
SAFE,
2007. Saline or Albumin for Fluid Resuscitation in Patients with Traumatic
Brain Injury. The new england journal of medicine n engl j med 357;9
www.nejm.874 org august 30, 2007
Teranishi,
Kohsuke et all, 2012. Traumatic brain injury and severe uncontrolled
haemorrhage with short delay pre-hospital resuscitation in a swine model.
Injury, Int. J. Care Injured 43 (2012) 585–593
Harris,
Tim et all. 2012. Early fluid resuscitation in severe trauma. doi:
10.1136/bmj.e5752 (Published 11 September 2012)
Ogilvie,
Michael et all, 2010. First Report on Safety and Efficacy of Hetastarch
Solution for Initial Fluid Resuscitation at a Level 1 Trauma Center. ISSN
1072-7515/10/$36.00. Published by Elsevier Inc.
doi:10.1016/j.jamcollsurg.2010.01.010
Singh,
Prakash, et all 2005. Intravenous fluid Considerations in the Resuscitation of
a Head Injured Patient. Indian Journal of Neurotrauma (IJNT) 2005, Vol. 2, No.
2, pp. 87-90
Analisis Literatur Penatalaksanaan Trauma Servikal
Ketepatan
Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital yang utama pada kejadian trauma
tulang belakang servikal yaitu pertama, segera menghubungi ambulan/ perawat
emergensi terdekat dengan tempat kejadian. Kedua, selama menunggu perawat
emergensi datang lakukan penatalaksanaan primary survey dengan pembebasan jalan
nafas, mempertahankan pernafasan pasien, mempertahankan aliran darah ke jantung
pasien. Ketiga, lakukan penatalaksanaan immobilisasi pada tulang belakang
servikal. Penting untuk memperhatikan trauma tulang belakang servikal dan
berhati-hati pada saat menggerakkan pasien, dengan memperhatikan pergerakan
dari tulang belakang, hal ini bisa meminimalisir terjadinya trauma lanjutan
(ARC, 2012).
Khusus pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran pertama
pertahankan dahulu kepatenan jalan nafas sebelum mengkaji trauma tulang
belakang. Untuk mempertahankan jalan nafas perhatikan posisi kepala harus pada
posisi netral terhadap trauma tulang belakang servikal seperti jaw trust.
Pertahankan posisi leher pasien ditempat datar dan pastikan pasien
mempertahankan immobilisasi. Seandainya pernafasan pasien spontan dan cenderung
mengalami penurunan kesadaran, lebih baik posisikan kaki lebih tinggi dari
jantung sebagai posisi recovery (ARC, 2012, Carpico, 2007).
Pada
kenyataannya Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital masih
kurang memadai untuk meminimalisir trauma dan dalam studi literatur yang
menyebutkan dapat terjadi kerusakan saraf akibat imobilisasi yang kurang tepat.
Pada saat melakukan Imobilisasi tulang belakang juga untuk mengetahui risiko
yang terburuk bagi pasien dengan trauma tulang belakang servikal dan hal itu
dapat memperlama waktu saat melakukan penatalaksanaan immobilisasi menjadikan
hambatan ketepatan waktu pengiriman pasien ke rumah sakit. Untuk mengatasi hal
tersebut sejumlah teknik imobilisasi tulang belakang yang tepat dapat digunakan
yaitu (ARC, 2012. Waninger, 2011) :
Pedoman
In-line Stabilisasi
Perawat
dapat memberikan stabilisasi manual dengan berdiri di belakang korban dengan
berlutut di atas kepala korban yang diterlentangkan. Perawat harus memegang
kepala korban, sementara menstabilkannya dengan cara mengunci siku perawat atau
beristirahat siku di kepala pasien. Tujuannya adalah untuk mempertahankan
kepala korban dalam posisi netral sejajar dengan tubuh , sehingga menghindari
gerakan abnormal secara mendadak. Bila pada pasien dewasa tanpa trauma,
bantalan di bawah kepala untuk mengangkat 2cm diatas tingkat tubuh untuk
mengoptimalkan posisi kepala sejajar terhadap tulang belakang servikal
(Pimentel, 2010. Waninger, 2011).
Penggunaan
servical Colar
Penatalaksanaan
ini hanya boleh digunakan oleh perawat terlatih karena perawat harus mampu
melakukan dengan akurat menentukan ukuran dan ketepatan cara memasang. Bila perawat
mampu melakukan dengan tepat dan cepat akan mengurangi waktu yang diperlukan
untuk immobilisasi pada fase pre hospital. Penahan yang paling umum digunakan
dibuat dari plastik keras , dengan bantalan busa yang lembut , dan dipasangkan
pada leher korban untuk menjaga tulang belakang bagian servikal dalam posisi
netral dan mencegah pergerakan kepala secara mendadak. Sama halnya pada manual
in-line stabilisasi harus dipertahankan kepatenan servical colar (ARC, 2012.
Meek, R., McGannon, D., & Edwards, L. 2007).
Spinal
boards
Menggunakan
sebuah papan kaku ditempatkan di bawah pasien digunakan oleh perawat untuk
memindahkan pasien bila diperlukan. Sebelum perawat memindahkan dengan spinal
board pasien seharusnya sudah memakai colar brace di tempat kejadian dan hal
ini dimaksudkan untuk mempertahankan pergerakan kepala leher saat perawat
memindahkan pasien dengan spinal board (Pimentel, 2010).
Log
roll
Menggunakan
tehnik manuver dilakukan oleh tim yang terlatih, untuk memindahkan pasien dari
posisi telentang ke arah penolong, dan kemudian ditelentangkan lagi, hal ini
digunakan untuk memeriksa adanya trauma di tulang belakang atau untuk
menempatkan papan spinal board (ARC, 2012).
Ketepatan
Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital harus memperhatikan Trauma
tulang belakang bagian servikal pada pasien yang sadar maupun yang mengalami
penurunan kesadaran memiliki penyulit pada penatalaksanaannya. Sebagai langkah
antsisipatif hendaknya perawat bila menemui pasien yang mengalami trauma akibat
kecelakaan, jatuh atau pukulan dianggap sebagai penyebab trauma tulang belakang
servikal. Ketepatan saat penatalaksanaan dianggap penting agar mengurangi
lamanya waktu pada fase pre-hospital, untuk itu perawat emergensi harus
memiliki keahlian penanganan pada trauma tulang belakang dengan in-line
immobilisasi, pemasangan colar brace, spine boards dan log roll dengan tepat.
Referensi
:
Advanced
Paediatric Life Support (2011).
Australian
Resuscitation Council. 2012. Guideline 9 : management of suspected spinal
injury
Brohi,
K. 2002. Spine trauma. URL : (5 September 2013)
http://trauma.org/archive/spine/cspine-eval.html
Blackham,
J., & Benger, J. (2001). Why do we put cervical collars on conscious trauma
patient? scanadian journal of trauma 17, 44.
Campbell,
Jhon Pe. 2004. Basic Trauma Life Support. New Jersy : Person Prentice Hall
Carpico,
B. (2007). Suspected cervical spine injury. Nursing Journal, 37(3), 88.
Davenport,M.
2009 . Fracture cervical spine. (5 September 2013) URL :
http://emedicine.medscape.com/article/824380-overview
Jones,
c. (2012). Assessment and Management of a Child with Suspected Acute Neck
Injury. Nursing Children and Young People, 24(3), 29-33
Meek,
R., McGannon, D., & Edwards, L. (2007). The Safety of Nurse Clearance of
the Cervical Spine using the National Emergency X-Radiography Utilization Study
low-risk Creiteria. Emergency Medicine Australasia 19, 372-376.
Pimentel,
L. (2010). Evaluation and Management of Avute Cervical Spine Trauma Emergency
Medicine Clinic, 28(4), 719-738.
Waninger,
K. (2011). Cervical Spine Injury Management in the Helmeted Athlete. Current
Sports Medicine Reports, 45-49.
Analisis literatur Peningkatan Bystander CPR
![]() |
Analisis
literatur
Banyak
data dari penelitian yang telah dilakukan baik dari asia, eropa, dan amerika
terkait bagaimana meningkatkan bystander CPR, Menurut Sasson (2013) berdasarkan
guidelines AHA 2010 ada empat langkah penting yang terlibat dalam memberikan
bystander CPR sebagai bagian dari respon tanggap darurat masyarakat sebagai
materi pelatihan bystander CPR. Pertama, penolong harus menyadari bahwa korban
membutuhkan bantuan. Early recognition yang dilakukan oleh penolong atau
bystander adalah menyadari bahwa korban telah mengalami serangan henti jantung,
atau secara sederhananya mengenali bahwa korban membutuhkan bantuan dari
Emergency Medical Services (EMS). Kedua, penolong dengan segera harus memanggil
nomor akses EMS setempat. Ketiga, panggilan tersebut akan dialihkan ke
dispatcher, yang harus mengidentifikasi bahwa serangan henti jantung memamg
telah terjadi pada korban dan akan memproses respon EMS yang sesuai. Operator
atau dispatcher akan menyediakan instruksi CPR yang memandu penolong untuk
melakukan CPR. Untuk selanjutnya, yang keempat penolong akan memulai dan terus
melakukan CPR pada korban OHCA sampai bantuan datang.
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan Rossler (2013) yang dilatarbelakangi dari sejarah Bantuan
Hidup dasar (BLS) sejak 1950, telah dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan
bystander CPR. Meskipun bystander CPR terbukti mampu meningkatkan ketahanan
hidup pada pasien dengan henti jantung dengan mengikuti rantai prosedural AHA
2010, namun angka inisiatif dari bystander CPR masih rendah sekitar 20% dari
kejadian. Hal ini dari ketidakpercayaan diri dan ketakutan akan terjadi
kesalahan pada prosedur CPR. Hal utama dalam penelitian ini adalah penggunaan
evaluasi Hand Of Time (HOT) dengan membandingkan peserta yang diberikan
algoritma dengan tidak. Hasil yang didapatkan terdapat peningkatan HOT pada
peserta yang tidak memakai algoritme, sedangkan pada peserta yang memakai
algoritme lebih percaya diri dan memiliki ketepatan prosedural pada penanganan henti
jantung. Dari hasil ini dapat menjadi gambaran bagaimana seharusnya pelaksanaan
pelatihan dengan menggunakan algoritme saat proses pembelajarn secara periodik
agar meningkatkan tingkat percaya diri bystander CPR.
Penilaian
awal pada orang yang membutuhkan CPR dengan OHCA harus sering dilatih menuju
kearah situasi kritis dengan kemungkinan bertahan yang rendah. Dengan demikian
bystander dapat tetap tenang bila melakukan di keadaan nyata dengan keadaan
orang yang kritis. Jeda waktu sebelum saatnya pemberian DC shock seharusnya
lebih banyak dilakukan CPR oleh bystander yang telah memiliki kemampuan. Ada
beberapa pasien yang telah dilakukan CPR dengan keadaan mereka tua, terbanyak
wanita, waktu OHCA lama dan terbuang dirumah, banyak ditemukan dengan VF dan
banyak waktu terbuang dari perjalanan ambulan. Kesimpulan dari penelitian ini
terjadi peningkatan bystander CPR pada OHCA. Bystander CPR telah mendapatkan
hasil yang positif pada VF dan peningkatan kemampuan bertahan (nordberg, 2009).
Strategi
Penerapan
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan di japan terkait bagaimana meningkatkan kemampuan dan
kemauan dari bystander CPR pada tahun 2011 yang dilakukan di Takatsuki yang
dianalisis berdasarkan hasil kejadian dari sistem EMS. Pelatihan bagi bystander
CPR harus menyesuaikan dengan kemampuan masyarakat, ada beberapa strategi yang
dapat diterapkan pada pelatihan CPR. Salah satunya dengan pelaksanaan waktu
singkat dan efisiensi pelatihan dengan menggunakan video pembelajaran, manikin
orang, atau tempat latihan CPR sederhana seharusnya dapat meningkatkan
kemampuan dari bystander CPR. Ada beberapa faktor yang dapat menurunkan kemauan
dari bystander CPR diantaranya panik, takut terjadi kesalahan, malu dan
sebagainya (tanigawa, 2011). Pelatihan CPR diharapkan tidak lagi menggunakan
metode clasical dengan metode belajar yang hanya 1 arah dan tanpa pengulangan.
Bila menggunakan waktu yang singkat harus diimbangi dengan metode belajar yang
dapat diulangi lagi dengan media video.
Tehnik
dengan metode pembelajaran atau pelatihan dengan memanfaatkan teknologi
terkomputerisasi menggunakan media video. Metode ini yang bisa dilakukan sangat
bisa untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas adalah melalui program
computer-based cardiopulmonary resuscitation (CPR). Program ini telah digunakan
oleh National Safety Council (NSC) pada Januari 2000. Program ini berbeda
dengan program pelatihan konvensional baik dari metode pelatihan dan pemberian
sertifikat. Dengan program computer-based CPR setiap peserta pelatihan dapat
mendaftarkan diri dan mengikuti pelatihan di area manapun yang mempunyai
koneksi internet, tanpa harus datang ke tempat tertentu. Program pelatihan
computer-based ini terbukti menjadi pilihan efektif untuk melatih masyarakat
awam tentang CPR (Perkins et al, 2012).Terdapat berbagai hal yang positif dan
negatif dari metode sistem pelatihan per area ini. Hasil yang positif dari
metode ini masyarakat dapat sangat mudah untuk menentukan tempat dan waktu
pelatihan yang akan diikuti. Sehingga memudahkan dalam hal pencarian waktu yang
tepat terkait padatnya aktivitas masyarakat. Hasil yang negatif dapat ditemukan
perbedaan tingkat kemampuan dari peserta, karena kondisi dari satu area dengan
area yang lain berbeda. Namun hal ini dapat diatasi dengan adanya standart yang
diberlakukan pada jenis, media dan pelatih yang akan digunakan ditiap area.
Dari
gambaran diatas sudah seharusnya Indonesia menerapkan peningkatan pelatihan
bagi bystander CPR. Strategi yang dilakukan dengan penyingkatan waktu, efisien
terhadap materi, penggunaan media teknologi, dan tepat sasaran pada kelompok
tertentu. Saat ini di Indonesia yang belum terlaksana adalah penggunaan
teknologi sebagai media pelatihan. Sudah seharusnya beralih dari clasical
metode ke modern metode dengan pemanfaatan media elektronik. Penggunaan metode
video dapat disesuaikan dengan kemampuan dari bystander CPR, misalnya pada
siswa sekolah dengan pemutaran video tentang indikasi henti jantung, harus
dibedakan dengan peserta yang dari kalangan pegawai menggunakan video tentang
indikasi dan pelaksanaan dan juga harus disertai dengan praktek ke manikin
orang atau manikin CPR. Pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan saja belum cukup
bila sarana dan prasarana yang disediakan belum mencukupi, hal ini terkait
sistem EMS yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik di Indonesia.
Pada
tahap evaluasi dari pelatihan atau pun pelaksanaan dari bystander CPR dapat
menggunakan sistem HOT (Hand Of Time). Kriteria hasil utama adalah hanya 5
menit HOT pada menikin CPR. Hasil yang kedua adalah mengevaluasi HOT, apakah
HOT dilaksanakan pada set pertama pada kompresi dada atau akhir dari
pelaksanaan kompresi dada. HOT disini mengindikasikan kurangnya kemauan
bystander CPR dalam memberikan pertolongan pada henti jantung. Hal ini bisa
dilihat bila pada pertengahan siklus CPR bystander melepaskan tangan sebagai
wujud dari lelah, takut mencederai, atau kurang percaya diri dll. Berdasarkan
hal ini lah proses pelatihan dapat memfokuskan arti dari HOT agar tetap terjadi
recoil dari CPR sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan untuk memberikan
oksegenasi pada paru, jantung dan otak (Rossler, 2013).
Kesimpulan
Pemberian
bantuan hidup dasar (BLS) pada orang yang mengalami henti jantung berupa
kompresi dada (CPR) yang dilakukan oleh bystander atau penolong saat menemui
adanya serangan henti jantung sangat membantu kemungkinan bertahan hidup korban
2–3 kali lipat. Berdasarkan HIPGABI dalam pelatihanya disampaikan bahwa
keterlambatan memberikan BLS dalam 1 menit kemungkinan berhasil 98–100%, 3
menit kemungkinan berhasil 50–100%, 10 menit kemungkinan berhasil 1–100%. Oleh
karena itulah sangat dibutuhkan sekali peningkatan jumlah dan kesiapsiagaan
bystander CPR untuk memberikan pertolongan pada korban henti jantung di situasi
OHCA. Beberapa program clasical masih dapat dilakukan antara lain penyebaran
informasi melalui media cetak ataupun penyuluhan di komunitas, tempat umum,
tempat kerja, maupun sekolah. Program lainnya dengan pemanfaatan teknologi
adalah dengan peningkatan keterampilan bystander CPR melalui metode pelatihan
modern dengan pemanfaatan video dan e-learning. Hasil yang dievaluasi melalui
sistem HOT (Hand Of Time) dengan mengobservasi pelaksanaan bystander CPR.
Diharapkan hasil evaluasi dari HOT dapat menurun sehingga tercapai re-coil
dinding dada.
Daftar
Pustaka
GELS.(2011).
Pelatihan GELS (General Emergency Life Support). Medis Teknis Standart. RSU Dr.
Soetomo-FK UNAIR Surabaya.
HIPGABI.(2012).
Kumpulan Materi Pelatihan Emergency Nursing. Intermediate Level. HIPGABI :
Jakarta.
Nordberg,
Paul et al. (2009). Aspects on the increase in bystander CPR in Sweden and its
association with outcome. Published by Elsevier Ireland Ltd.
doi:10.1016/j.resuscitation.2008.11.013
Perkins
et al. (2012). Improving the Efficiency of Advanced Life Support Training. Ann
Intern Med. 157. p: 19-28.
Rossler,
B et al. (2013). Can a flowchart improve the quality of bystander
cardiopulmonary resuscitation?. 2013 Elsevier Ireland Ltd. All rights reserved.
http://dx.doi.org/10.1016/j.resuscitation.2013.01.001
Sasson,
Comilla et al. (2013). Increasing cardiopulmonary resuscitation provision in
communities with low bystander cardiopulmonary resuscitation rates.
Circulation.127:1-9. DOI: 10.1161/CIR.0b013e318288b4dd.
Tanigawa,
Kayo et al. (2011). Are trained individuals more likely to perform bystander
CPR?. Elsevier Ireland Ltd. All rights reserved.
doi:10.1016/j.resuscitation.2011.01.027
Friday, November 29, 2019
Peningkatan Manajemen Resusitasi pada Trauma Kepala
Peningkatan Management Resusitasi
pada Trauma Kepala : Metode SAFE
(Saline or Albumin Fluid Evaluation)
![]() |
| https://pixabay.com/id/vectors/anatomi-otak-penampang-kepala-2027131/ |
Latar Belakang
Kebanyakan cedera kepala merupakan akibat dari kontak bentur atau
guncangan lanjut. Cedera kontak bentur terjadi bila kepala membentur atau
menabrak sesuatu objek yang sebaliknya. Sedangkan cedera guncangan lanjut
merupakan akibat peristiwa guncangan kepada yang hebat, baik yang disebabkan
oleh pukulan maupun yang bukan karena pukulan. Selain itu penyebab yang paling
umum adanya peningkatan TIK pada pasien cedera kepala adalah edema serebri.
Puncak pembengkakan yaitu 72 jam setelah cedera. Pada saat otak yang rusak
membengkak atau terjadi penumpukan darah yang cepat, terjadi peningkatan TIK
karena ketidakmampuan tengkorak untuk membesar. Akibat cedera dan peningkatan
TIK, tekanan disebarkan pada jaringan otak dan struktur internal otak yang kaku
(Appleby, Ian et all, 2010).
Prinsip-prinsip patofisiologinya pada saat otak mengalami
hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik
anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada cedera kepala,
hipoksia atau kerusakan pada otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat
metabolik anaerob. Hal ini menyebabkan timbulnya metabolik asidosis. Pola pernafasan
Cedera kepala yang mengubah tingkat kesadaran biasanya menimbulkan gagal nafas
yang mengakibatkan laju mortalitas yang tinggi diantara pasien cedera kepala.
Kerusakan mobilitas fisik Akibat terjadinya edema dari cedera kepala berat,
dapat mengalami perubahan kesadaran, masalah dalam keseimbangan, kehilangan
tonus otot, otot spastik. Hemiparese dan hemiplegi sebagai akibat kerusakan
pada area motorik otak (Appleby, Ian et all, 2010. Dinh, Michael et al.
2013).
Keseimbangan hidrasi Hampir semua pasien cedera kepala akan
mempunyai masalah untuk mempertahankan status hidrasi yang seimbang, kondisi
ini akan mengurangi kemampuan tubuh berespon terhadap stres. Dalam keadaan
stres fisiologi, makin banyak antidiuretik (ADH) makin banyak aldosteron
diproduksi yang mengakibatkan retensi cairan dan natrium. Proses ini biasanya
membaik dengan sendirinya dalam satu sampai dua hari, bila diuresis terjadi.
Aktivitas menelan Gangguan area motorik dan sensorik dari hemisfer serebral
akan merusak kemampuan untuk mendeteksi adanya makanan pada sisi mulut dan
untuk memanipulasinya dengan gerakan pipi dan lidah. Kemampuan komunikasi
Pasien dengan cedera kepala juga disertai kerusakan komunikasi yang terjadi
secara tersendiri melainkan akibat dari kombinasi efek-efek disorganisasi dan
kekacauan proses bahasa (Appleby, Ian et all, 2010).
Sebagaimana kita ketahui,sebagian besar tubuh manusia terdiri atas
cairan yang jumlahnya berbeda-beda tergantung usia dan jenis kelamin serta
banyaknya lemak di dalam tubuh. Dengan makan dan minum tubuh mendapatkan air,
elektrolit serta nutrien-nutrien yang lain. Dalam waktu 24 jam jumlah air dan
elektrolit yang masuk setara dengan jumlah yang keluar. Terapi cairan
dibutuhkan bila tubuh tidak dapat memasukka air, elektrolit serta zat-zat makanan
ke dalam tubuh secara oral misalnya pada saat pasien harus berpuasa lama,
karena pembedahan saluran cerna, perdarahan banyak, syok hipovolemik, anoreksia
berat, mual muntah dan lain-lain. Dengan terapi cairan kebutuhan akan air dan
elektrolit akan terpenuhi. Selain itu terapi cairan juga dapat digunakan untuk
memasukkan obat dan zat makanan secara rutin atau juga digunakan untuk menjaga
keseimbangan asam basa.
Diagnosis cedera kepala biasanya tidak sulit ditegakkan : riwayat
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja atau perkelahian hampir selalu
ditemukan. Anamnesis lebih rinci tentang : Sifat kecelakaan, Saat terjadinya,
beberapa jam/hari sebelum dibawa ke rumah sakit, Ada tidaknya benturan kepala
langsung, Keadaan penderita saat kecelakaan dan perubahan kesadaran sampai saat
diperiksa (Damkliang, Jintana, et all. 2014. R. Shayn Martin and J. Wayne
Meredith). Bila si pasien dapat diajak berbicara, tanyakan urutan peristiwanya
sejak sebelum terjadinya kecelakaan, sampai saat tiba di rumah sakit untuk mengetahui
kemungkinan adanya amnesia retrograd. Muntah dapat disebabkan oleh tingginya
tekanan intrakranial.
Manfaat
Dari gambaran pada cedera kepala (neuropatologi), kerusakan otak
dapat digolongkan menjadi fokal dan difus, walaupun terkadang kedua tipe
tersebut muncul bersamaan. Alternatif yang lain menggolongkan kerusakan otak
menjadi primer (terjadi sebagai dampak) dan sekunder (munculnya kerusakan
neuronal yang menetap, hematoma, pembengkakan otak, iskemia, atau infeksi).
Iskemia serebral umumnya terjadi setelah cedera kepala berat dan disebabkan
baik karena hipoksia atau perfusi serebral yang terganggu/rusak. Pada orang
normal, tekanan darah yang rendah tidak mengakibatkan rendahnya perfusi
serebral karena adanya ”autoregulasi”, terbukti adanya vasodilatasi serebral.
Setelah cedera kepala, bagaimanapun juga sistem autoregulasi sering tidak
sempurna/cacat dan hipotensi bisa menyebabkan efek yang drastis (Appleby, Ian
et all, 2010).
Pemberian cairan dan elektrolit disesuaikan dengan kebutuhan.
Harus dicegah terjadinya hidrasi berlebih dan hiponatremia yang akan
memperberat edema otak. Pada kondisi normal, cairan tubuh manusia
didistribusikan intrasel dan ekstrasel dengan perbandingan yang tetap. Dengan
demikian segala kondisi yang dapat merubah komposisi tersebut akan
mengakibatkan ketidak seimbangan hemodinamik yang dapat menjadi fatal
(Damkliang, Jintana, et all. 2014).
Selanjutnya Bagaimana Analisis Literatur Manajemen Resusitasi Pada Trauma Kepala
Saturday, November 23, 2019
Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital
Ketepatan
Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital
Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital dengan melaksanakan prinsip manajemen penatalaksanaan trauma tulang belakang harus dilakukan pada semua jenis trauma. Hal ini dapat menurunkan Resiko kesalahan dalam penatalaksanaan trauma tulang belakang pada prehospital, selanjutnya dapat juga mengurangi kejadian trauma lanjutan (Secondary Injury), penyebab dari kesalahan penatalaksanaan ini adalah kesalahan dalam melakukan pergerakan pada pasien yang diduga dengan trauma tulang belakang. Tulang belakang bagian servikal adalah yang paling mudah terkena trauma, hal tersebut dimana terindikasi dari pasien yang mengalami trauma disekitar tulang bahu. Hampir lebih dari setengah pasien trauma tulang belakang mengalami trauma servikal. Pada trauma tulang belakang servikal, kenyataannya bila pasien mengalami penurunan kesadaran, menjadi kesulitan tersendiri bagi penolong karena saat membebaskan jalan nafas kadang tanpa sengaja membuat sedikit pergerakan pada tulang servikal (ARC, 2012).
Advanced
Life Support Group (2011) menyatakan : Hampir untuk setiap mekanisme cedera
baik langsung maupun tidak langsung mampu meningkatkan resiko trauma pada
tulang belakang yang terutama adalah cedera servikal, sampai terbukti secara
klinis maupun diagnostik tidak terdapat cedera. National Institute for Health
and Clinical Excelent (NICE) sebagai pedoman untuk mengelola cedera kepala
(2007) Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital juga
memperhatikan kebutuhan untuk imobilisasi leher pada pasien yang menderita
cedera kepala dengan kecurigaan klinis cedera leher (Jones, 2012).
Peningkatan aktifitas sehari-hari membuat masyarakat memilih alat
transportasi yang cepat, kendaraan bermotor roda 2 dianggap paling memenuhi
kebutuhan akan hal tersebut. Dapat terlihat dari jumlah kendaraan bermotor roda
2 yang ada di jalan raya kota malang melebihi jumlah kendaraan lainnya.
Kendaraan bermotor roda 2 mudah untuk digunakan dalam kemacetan dan efisien
secara ekonomi, menjadi alasan penulis yang juga menggunakan kendaraan bermotor
roda 2 dalam beraktifitas sehari-hari. Peningkatan jumlah pengguna kendaraan
bermotor roda 2 ini dibuktikan oleh data dari BPS (Badan Pusat Statistik) tahun
2011 sejumlah 68 juta pengguna yang naik dari 61 juta pada tahun 2010. Data
dari Satlantas Polres Malang kecelakaan lalu lintas terbanyak adalah kendaraan
bermotor roda 2 dengan 76% dari jumlah kecelakaan pada tahun 2007.
Menurut Davenport tahun 2009, Sejumlah 5-10% pasien yang mengalami
penurunan kesadaran yang datang ke ruang gawat darurat disebabkan karena
kecelakaan lalu lintas, disertai dengan trauma tulang belakang
servikal.Kemungkinan masalah yang disebabkan oleh tidak tepatnya penerapan
penatalaksanaan imobilisasi pada trauma tulang belakang servikal dapat meliputi
obstruksi jalan nafas, menghambat kinerja pengaturan pusat pernapasan, rasa
sakit dan ketidaknyamanan pada servikal, nyeri kepala dan peningkatan tekanan intrakranial
(Benger dan Blackham 2009. Jones, 2012).
Tanda dan gejala dari cedera tulang belakang servikal dibedakan 2 faktor
yaitu : pertama lokasi dari trauma tulang belakang servical dan kedua dari luas
trauma pada tulang belakang servical. Meskipu hanya berupa trauma pada tulang
belakang atau cedera pada hubungan antar tulang belakang servical, dan walaupun
terjadi dengan parsial atau komplit pada trauma tulang belakang servical. Hal
itu semua menjadikan sulit untuk mendapatkan tanda dan gejala yang jelas pada
pasien dengan trauma tulang belakang servical dengan pasien yang mengalami
penurunan kesadaran yang statis (ARC, 2012).
Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital salah
satunya Fraktur servikal mayoritas selalu terjadi pada pasien dengan
riwayat kecelakaan dengan kendaraan bermotor yang berkecepatan tinggi, trauma
pada wajah dan kepala yang menjadi peenyerta dan juga terdapat defisit
neurologis, nyeri pada leher, dan trauma multipel. Gambaran umum adanya fraktur
servikal dapat berupa nyeri pada palpasi dari prosesus spinosus di leher
posterior, terbatasnya gerakan yang disertai nyeri, adanya kelemahan
ekstremitas, rasa kebas, parestesi pada saraf yang terkena. Sulit untuk
mengevaluasi secara klinis adanya trauma tumpul servikal. Dari penelitian,
kemampuan untuk memprediksi adanya trauma servikal berdasarkan pemeriksaan
klinis saja memiliki sensitivitas 46%, spesifisitas 94%, dan 33% pasien
yang tidak terdiagnosis. Karena keterbatasan dan besarnya morbiditas
jangka panjang bila trauma tidak terdiagnosis, pasien dengan trauma tumpul yang
komplek dilakukan pemeriksaan radiologi, sampai dieksklusi adanya trauma
servikal. Tidak terdiagnosisnya trauma servikal dapat disebabkan karena
tidak dicurigai adanya trauma servikal, gambaran radiologi yang tidak adekuat,
dan interpretasi radiologi yang salah (Davenport, 2009 ;Brohi, 2002).
Berdasarkan mekanisme cedera tumpul tulang belakang
servikal menurut Campbell,2004 : 1, Hiperektensi, secara mendadak bagian kepala
dan leher bergerak kebelakang/ hiperektensi secara berlebihan. 2, Hiperfleksi,
secara mendadak kepala bergerak kedepan menjauhi dada/ heperfleksi dengan
berlebihan. 3, Kompresi, secara mendadak perubahan tekanan tubuh dari kaki/
bagian tubuh bawah menuju kepala hingga leher mengakibatkan penekanan pada
leher atau tulang belakang servikal. 4, Rotasi, secara mendadak pergerakan yang
berlebih dari tulang belakang servikal atau kepala dan leher sehingga terjadi
pergerakan berlawanan arah dari ruang tulang antar tulang belakang. 5, Penekanan
kesamping, pergerakan secara mendadak kesamping yang berlebihan sehingga
menyebabkan pergeseran dari tulang penghubung antar tulang belakang servikal.
6, Distraksi, secara mendadak Peregangan tulang belakang servikal yang
berlebihan dari ruang antar tulang belakang.
Selanjutnya bagaimana Analisis Literatur Penatalaksanaan trauma servikal
Thursday, November 21, 2019
Peningkatan Bystander CPR Dengan Pemanfaatan Media Teknologi
Peningkatan Bystander CPR Dengan Pemanfaatan Media
Teknologi
Yang di Evaluasi Dengan Sistem HOT
![]() |
| https://pixabay.com/id/photos/darurat-jantung-penyelamatan-3016877/ |
Abstrak
LatarBelakang
: Kejadian henti jantung dapat terjadi di waktu dan tempat yang tidak terduga.
Terhentinya sirkulasi dan ventilasi jantung membutuhkan tindakan segera
berupa pemberian CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation). Tindakan CPR merupakan
upaya pemenuhan oksigen dalam darah melalui pijat jantung dan bantuan nafas
baik manual maupun dengan alat bantu. Pelaksanaan tindakan CPR sebagai metode
pertolongan pertama kepada henti jantung, dapat dilakukan oleh orang pertama
dan terdekat yang memiliki kompetensi pemberian CPR (Bystander CPR).
Peningkatan Bystander CPR dilakukan melalui pelatihan CPR khusus awam, metode
yang digunakan sebagai media pelatihan dengan pemanfaatan media teknologi.
Pelatihan CPR awam memerlukan metode evaluasi yang efektif untuk meningkatkan
kualitas pemberian CPR oleh awam. Evaluasi dengan sistem HOT (Hand of Time)
dapat dilakukan sebagai satu metode evaluasi dalam pelatihan Bystander CPR. Peningkatan Bystander CPR Dengan Pemanfaatan Media Teknolog Yang di
Evaluasi Dengan Sistem HOT dinilai
cukup efektif.
Metode :
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka, sedangkan
tujuan penelitian ini mengumpulkan dan menganalisis artikel yang berkaitan
dengan Peningkatan Bystander CPR. Cara pengumpulan data dengan database
elektronik yang dilakukan oleh EBSCO, Proquest dan clinicalkey dan menggunakan
kata kunci CPR and Bystander CPR and HOT. Kriteria dari articlets diterbitkan
pada periode 2005-2014.
Hasil :
Penyebarluasan pendidikan publik dan peningkatan ketrampilan masyarakat tentang
CPR bisa meningkatkan jumlah bystander CPR di kalangan masyarakat. Sehingga
ketika menjumpai pasien dengan henti jantung, masyarakat dapat segera siap
siaga untuk mengenali tanda dan gejala pasien dan segera memberikan penanganan
CPR sambil menunggu pertolongan dari rumah sakit datang. Dengan begitu dapat
berpengaruh pada peningkatan survival rate dari pasien henti jantung yang
terjadi di luar rumah sakit (OHCA).
Kesimpulan :
Beberapa program clasical masih dapat dilakukan antara lain penyebaran
informasi melalui media cetak ataupun penyuluhan di komunitas, tempat umum,
tempat kerja, maupun sekolah. Program lainnya dengan pemanfaatan teknologi
adalah dengan peningkatan keterampilan bystander CPR melalui metode pelatihan
modern dengan pemanfaatan video dan e-learning. Hasil yang dievaluasi melalui
sistem HOT (Hand Of Time) dengan mengobservasi pelaksanaan bystander CPR.
Diharapkan hasil evaluasi dari HOT dapat menurun sehingga tercapai re-coil
dinding dada.
Kata Kunci :
Bystander CPR, Media Pelatihan, Evaluasi system HOT
Latar
Belakang
Manusia
adalah mahluk yang tidak memiliki cadangan oksigen. Pada keadaan gagal nafas
karena obstruksi atau ketidakmampuan paru berekspansi maka oksigen dalam paru
akan habis dalam waktu 1,5–2 menit dan sementara tidak ada oksigen yang masuk,
maka metabolisme tubuh memanfaatkan oksigen darah yang akan habis dalam waktu
4–5 menit, kemudian jantung berhenti dan beberapa detik kemudian otak mengalami
kerusakan irreversible. Jantung dan Otak adalah dua organ fital manusia, bila
kedua organ ini tidak mendapatkan oksigen maka akan terjadi kematian sel (GELS,
2011. HIPGABI, 2012).
Kehabisan
oksigen dalam paru dan dalam darah dapat berlangsung lebih cepat lagi bila
ternyata keadaan pasien sudah dalam keadaan hipoksia sebelumnya. Berdasarkan
hal ini kebutuhan oksigen bagi tubuh sangat penting terutama untuk memanjangkan
waktu pemakaian oksigen, oleh karena itu diperlukan resusitasi pada jantung,
paru dan otak. Tindakan Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO) adalah terjemahan
dalam bahasa indonesia, namun yang sering dipakai adalah Cardio Pulmonary
Resuscitation (CPR). Tindakan CPR ini merupakan gambaran pemenuhan oksigen
dalam darah melalui pijat jantung dan bantuan nafas baik manual maupun dengan
alat bantu.
Indikasi
yang jelas pada keadaan henti nafas lalu henti jantung pada keadaan yang perlu
bantuan hidup dasar. Tujuan dari pemberian bantuan hidup dasar ini adalah
mencegah berhentinya sirkulasi, memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi
dan ventilasi. Tindakan bantuan hidup dasar ini adalah bagian dari CPR 2012.
Guideline CPR 2010 saat jantung mungkin belum berhenti sama sekali, mungkin
jantung masih berdenyut tetapi lemah dan mulai melambat (severe bradycardia)
diharapkan jantung sudah dipijat cukup berdasarkan pemeriksaan pasien tidak
sadar dan tidak bernafas. Bantuan tindakan ini harus segera dilakukan pijat
jantung (chest compression) sebelum 5 menit jaringan otak terlanjur menjadi
rusak dan irreversible, bahkan kalau terpaksa dilakukan pijat jantung saja
tanpa nafas bantuan (chest compression-only CPR).
Tindakan
bantuan hidup dasar ini boleh dilakukan oleh orang awam, siapa saja yang telah
mendapatkan pelatihan bantuan hidup dasar. Diwajibkan segera meminta bantuan
untuk kemudian dapat dilanjutkan oleh tenaga ahli dengan pemasangan alat bantu
jalan nafas atau intubasi, monitoring EKG, pemberian obat serta penggunaan
defibrilator.
Dalam 3
dekade terakhir angka kematian banyak di sebabkan karena artery coronary
disease saat diluar Rumah Sakit secara tiba-tiba dan hampir 50.000 kejadian
henti jantung terdokumentasi tiap tahun di japan. Angka kematian henti jantung
diluar RS (OHCA) adalah kasus klinik yang menjadi salah satu terpenting. Hal
ini menjadi dasar tindakan resusitasi pada kejadian OHCA yang tergantung dari
inisiasi awal CPR dan defibrilasi dan CPR oleh bystander seharusnya dapat
meningkatkan peluang hidup bagi pasien. Meskipun efektifitas dari Bystander CPR
masih diragukan, sebenarnya CPR oleh bystander harus dirutinkan.
Data dari
penelitian sebelumnya yang mengindikasikan Pelatihan CPR mampu meningkatkan
kesediaan untuk melakukan CPR dan ini ikut meningkatkan angka pertolongan oleh
bystander CPR. Untuk meningkatkan bystander CPR, unsurnya dari memfokuskan
pelatihan CPR dan meluaskan program pelatihan CPR setiap 1.620.000 orang per
tahun di japan. Walaupun begitu, banyak data menunjukkan efektifitas dari
pelatihan CPR dievaluasi dari pertunjukan kemampuan CPR atau Kebenaran dalam
melakukan CPR dan sedikit dari efektifitas itu dari kemampuan penolong pada
keadaan emergensi atau pada pasien dengan OHCA (tanigawa, 2011). Dari gambaran
tersebut dapat ditarik kesimpulan sebenarnya kejadian henti jantung dapat
terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Hal ini yang mendasari harus
dibentuknya bystander CPR sebagai penolong pertama pada keadaan henti jantung.
Tentunya pembentukan bystander CPR ini melalui pelatihan secara rutin dan
pemilihan bystander sesuai dengan kemampuan dan kemauan.
Manfaat
Masyarakat
yang telah mendapatkan pelatihan CPR memiliki peningkatan kemauan melakukan CPR
dari pada yang belum mendapatkan pelatihan (tanigawa, 2011). Hasil dari
penelitian di japan ini dapat menjadi realita masyarakat yang telah memiliki
kemampuan melakukan CPR akan memiliki kemauan untuk menolong bila ada dalam
keadaan ada orang yang mengalami henti jantung. Tentunya tidak semua masyarakat
diberikan pelatihan CPR tapi harus memiliki sasaran masyarakat untuk pendidikan
publik dan ketrampilan CPR dapat ditujukan untuk masyarakat di tempat-tempat
umum (bandara, stasiun, terminal, pasar), anak sekolah maupun di tempat kerja.
Harapannya,
dengan penyebarluasan pendidikan publik dan peningkatan ketrampilan masyarakat
tentang CPR bisa meningkatkan jumlah bystander CPR di kalangan masyarakat.
Sehingga ketika menjumpai pasien dengan henti jantung, masyarakat dapat segera
siap siaga untuk mengenali tanda dan gejala pasien dan segera memberikan
penanganan CPR sambil menunggu pertolongan dari rumah sakit datang. Dengan
begitu dapat berpengaruh pada peningkatan survival rate dari pasien henti
jantung yang terjadi di luar rumah sakit (OHCA). Pelaksanaan bantuan hidup
dasar pada henti jantung memiliki prosedural yang sesuai dengan guideline AHA
2010 diantaranya penilaian awal apakah terjadi henti jantung, mengaktifkan EMS,
tindakan dini pelaksanaan CPR, dan segera defibrilasi bila ada indikasi.
Bystander CPR yang telah mendapatkan pelatihan BLS/ bantuan hidup dasar akan
melaksanakan secara otomatis prosedural tindakan penanganan henti jantung.
Subscribe to:
Posts (Atom)







