Saturday, November 23, 2019

Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital

Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital



     Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital
 dengan melaksanakan prinsip manajemen penatalaksanaan trauma tulang belakang harus dilakukan pada semua jenis trauma. Hal ini dapat menurunkan Resiko kesalahan dalam penatalaksanaan trauma tulang belakang pada prehospital, selanjutnya dapat juga mengurangi kejadian trauma lanjutan (Secondary Injury), penyebab dari kesalahan penatalaksanaan ini adalah kesalahan dalam melakukan pergerakan pada pasien yang diduga dengan trauma tulang belakang. Tulang belakang bagian servikal adalah yang paling mudah terkena trauma, hal tersebut dimana terindikasi dari pasien yang mengalami trauma disekitar tulang bahu. Hampir lebih dari setengah pasien trauma tulang belakang mengalami trauma servikal. Pada trauma tulang belakang servikal, kenyataannya bila pasien mengalami penurunan kesadaran, menjadi kesulitan tersendiri bagi penolong karena saat membebaskan jalan nafas kadang tanpa sengaja membuat sedikit pergerakan pada tulang servikal (ARC, 2012). 
Advanced Life Support Group (2011) menyatakan : Hampir untuk setiap mekanisme cedera baik langsung maupun tidak langsung mampu meningkatkan resiko trauma pada tulang belakang yang terutama adalah cedera servikal, sampai terbukti secara klinis maupun diagnostik tidak terdapat cedera. National Institute for Health and Clinical Excelent (NICE) sebagai pedoman untuk mengelola cedera kepala (2007) Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital juga memperhatikan kebutuhan untuk imobilisasi leher pada pasien yang menderita cedera kepala dengan kecurigaan klinis cedera leher (Jones, 2012).
Peningkatan aktifitas sehari-hari membuat masyarakat memilih alat transportasi yang cepat, kendaraan bermotor roda 2 dianggap paling memenuhi kebutuhan akan hal tersebut. Dapat terlihat dari jumlah kendaraan bermotor roda 2 yang ada di jalan raya kota malang melebihi jumlah kendaraan lainnya. Kendaraan bermotor roda 2 mudah untuk digunakan dalam kemacetan dan efisien secara ekonomi, menjadi alasan penulis yang juga menggunakan kendaraan bermotor roda 2 dalam beraktifitas sehari-hari. Peningkatan jumlah pengguna kendaraan bermotor roda 2 ini dibuktikan oleh data dari BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2011 sejumlah 68 juta pengguna yang naik dari 61 juta pada tahun 2010. Data dari Satlantas Polres Malang kecelakaan lalu lintas terbanyak adalah kendaraan bermotor roda 2 dengan 76% dari jumlah kecelakaan pada tahun 2007. 
Menurut Davenport tahun 2009, Sejumlah 5-10% pasien yang mengalami penurunan kesadaran yang datang ke ruang gawat darurat disebabkan karena kecelakaan lalu lintas, disertai dengan trauma tulang belakang servikal.Kemungkinan masalah yang disebabkan oleh tidak tepatnya penerapan penatalaksanaan imobilisasi pada trauma tulang belakang servikal dapat meliputi obstruksi jalan nafas, menghambat kinerja pengaturan pusat pernapasan, rasa sakit dan ketidaknyamanan pada servikal, nyeri kepala dan peningkatan tekanan intrakranial (Benger dan Blackham 2009. Jones, 2012). 
Tanda dan gejala dari cedera tulang belakang servikal dibedakan 2 faktor yaitu : pertama lokasi dari trauma tulang belakang servical dan kedua dari luas trauma pada tulang belakang servical. Meskipu hanya berupa trauma pada tulang belakang atau cedera pada hubungan antar tulang belakang servical, dan walaupun terjadi dengan parsial atau komplit pada trauma tulang belakang servical. Hal itu semua menjadikan sulit untuk mendapatkan tanda dan gejala yang jelas pada pasien dengan trauma tulang belakang servical dengan pasien yang mengalami penurunan kesadaran yang statis (ARC, 2012). 
Ketepatan Penatalaksanaan Trauma Servikal di Pre-Hospital salah satunya Fraktur servikal mayoritas selalu terjadi pada pasien dengan riwayat kecelakaan dengan kendaraan bermotor yang berkecepatan tinggi, trauma pada wajah dan kepala yang menjadi peenyerta dan juga terdapat defisit neurologis, nyeri pada leher, dan trauma multipel. Gambaran umum adanya fraktur servikal dapat berupa nyeri pada palpasi dari prosesus spinosus di leher posterior, terbatasnya gerakan yang disertai nyeri, adanya kelemahan ekstremitas, rasa kebas, parestesi pada saraf yang terkena. Sulit untuk mengevaluasi secara klinis adanya trauma tumpul servikal. Dari penelitian, kemampuan untuk memprediksi adanya trauma servikal berdasarkan pemeriksaan klinis saja memiliki sensitivitas 46%, spesifisitas 94%, dan 33% pasien  yang tidak terdiagnosis. Karena keterbatasan  dan besarnya morbiditas jangka panjang bila trauma tidak terdiagnosis, pasien dengan trauma tumpul yang komplek dilakukan pemeriksaan radiologi, sampai dieksklusi adanya trauma servikal. Tidak terdiagnosisnya  trauma servikal dapat disebabkan karena tidak dicurigai adanya trauma servikal, gambaran radiologi yang tidak adekuat, dan interpretasi radiologi yang salah (Davenport, 2009 ;Brohi, 2002).
Berdasarkan mekanisme cedera tumpul tulang belakang servikal menurut Campbell,2004 : 1, Hiperektensi, secara mendadak bagian kepala dan leher bergerak kebelakang/ hiperektensi secara berlebihan. 2, Hiperfleksi, secara mendadak kepala bergerak kedepan menjauhi dada/ heperfleksi dengan berlebihan. 3, Kompresi, secara mendadak perubahan tekanan tubuh dari kaki/ bagian tubuh bawah menuju kepala hingga leher mengakibatkan penekanan pada leher atau tulang belakang servikal. 4, Rotasi, secara mendadak pergerakan yang berlebih dari tulang belakang servikal atau kepala dan leher sehingga terjadi pergerakan berlawanan arah dari ruang tulang antar tulang belakang. 5, Penekanan kesamping, pergerakan secara mendadak kesamping yang berlebihan sehingga menyebabkan pergeseran dari tulang penghubung antar tulang belakang servikal. 6, Distraksi, secara mendadak Peregangan tulang belakang servikal yang berlebihan dari ruang antar tulang belakang.


Selanjutnya bagaimana Analisis Literatur Penatalaksanaan trauma servikal
            

No comments:

Post a Comment