Saturday, December 7, 2019

Analisis literatur Peningkatan Bystander CPR


Analisis literatur Peningkatan Bystander CPR


Analisis literatur

Banyak data dari penelitian yang telah dilakukan baik dari asia, eropa, dan amerika terkait bagaimana meningkatkan bystander CPR, Menurut Sasson (2013) berdasarkan guidelines AHA 2010 ada empat langkah penting yang terlibat dalam memberikan bystander CPR sebagai bagian dari respon tanggap darurat masyarakat sebagai materi pelatihan bystander CPR. Pertama, penolong harus menyadari bahwa korban membutuhkan bantuan. Early recognition yang dilakukan oleh penolong atau bystander adalah menyadari bahwa korban telah mengalami serangan henti jantung, atau secara sederhananya mengenali bahwa korban membutuhkan bantuan dari Emergency Medical Services (EMS). Kedua, penolong dengan segera harus memanggil nomor akses EMS setempat. Ketiga, panggilan tersebut akan dialihkan ke dispatcher, yang harus mengidentifikasi bahwa serangan henti jantung memamg telah terjadi pada korban dan akan memproses respon EMS yang sesuai. Operator atau dispatcher akan menyediakan instruksi CPR yang memandu penolong untuk melakukan CPR. Untuk selanjutnya, yang keempat penolong akan memulai dan terus melakukan CPR pada korban OHCA sampai bantuan datang.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rossler (2013) yang dilatarbelakangi dari sejarah Bantuan Hidup dasar (BLS) sejak 1950, telah dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan bystander CPR. Meskipun bystander CPR terbukti mampu meningkatkan ketahanan hidup pada pasien dengan henti jantung dengan mengikuti rantai prosedural AHA 2010, namun angka inisiatif dari bystander CPR masih rendah sekitar 20% dari kejadian. Hal ini dari ketidakpercayaan diri dan ketakutan akan terjadi kesalahan pada prosedur CPR. Hal utama dalam penelitian ini adalah penggunaan evaluasi Hand Of Time (HOT) dengan membandingkan peserta yang diberikan algoritma dengan tidak. Hasil yang didapatkan terdapat peningkatan HOT pada peserta yang tidak memakai algoritme, sedangkan pada peserta yang memakai algoritme lebih percaya diri dan memiliki ketepatan prosedural pada penanganan henti jantung. Dari hasil ini dapat menjadi gambaran bagaimana seharusnya pelaksanaan pelatihan dengan menggunakan algoritme saat proses pembelajarn secara periodik agar meningkatkan tingkat percaya diri bystander CPR.

Penilaian awal pada orang yang membutuhkan CPR dengan OHCA harus sering dilatih menuju kearah situasi kritis dengan kemungkinan bertahan yang rendah. Dengan demikian bystander dapat tetap tenang bila melakukan di keadaan nyata dengan keadaan orang yang kritis. Jeda waktu sebelum saatnya pemberian DC shock seharusnya lebih banyak dilakukan CPR oleh bystander yang telah memiliki kemampuan. Ada beberapa pasien yang telah dilakukan CPR dengan keadaan mereka tua, terbanyak wanita, waktu OHCA lama dan terbuang dirumah, banyak ditemukan dengan VF dan banyak waktu terbuang dari perjalanan ambulan. Kesimpulan dari penelitian ini terjadi peningkatan bystander CPR pada OHCA. Bystander CPR telah mendapatkan hasil yang positif pada VF dan peningkatan kemampuan bertahan (nordberg, 2009).

Strategi Penerapan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di japan terkait bagaimana meningkatkan kemampuan dan kemauan dari bystander CPR pada tahun 2011 yang dilakukan di Takatsuki yang dianalisis berdasarkan hasil kejadian dari sistem EMS. Pelatihan bagi bystander CPR harus menyesuaikan dengan kemampuan masyarakat, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan pada pelatihan CPR. Salah satunya dengan pelaksanaan waktu singkat dan efisiensi pelatihan dengan menggunakan video pembelajaran, manikin orang, atau tempat latihan CPR sederhana seharusnya dapat meningkatkan kemampuan dari bystander CPR. Ada beberapa faktor yang dapat menurunkan kemauan dari bystander CPR diantaranya panik, takut terjadi kesalahan, malu dan sebagainya (tanigawa, 2011). Pelatihan CPR diharapkan tidak lagi menggunakan metode clasical dengan metode belajar yang hanya 1 arah dan tanpa pengulangan. Bila menggunakan waktu yang singkat harus diimbangi dengan metode belajar yang dapat diulangi lagi dengan media video.

Tehnik dengan metode pembelajaran atau pelatihan dengan memanfaatkan teknologi terkomputerisasi menggunakan media video. Metode ini yang bisa dilakukan sangat bisa untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas adalah melalui program computer-based cardiopulmonary resuscitation (CPR). Program ini telah digunakan oleh National Safety Council (NSC) pada Januari 2000. Program ini berbeda dengan program pelatihan konvensional baik dari metode pelatihan dan pemberian sertifikat. Dengan program computer-based CPR setiap peserta pelatihan dapat mendaftarkan diri dan mengikuti pelatihan di area manapun yang mempunyai koneksi internet, tanpa harus datang ke tempat tertentu. Program pelatihan computer-based ini terbukti menjadi pilihan efektif untuk melatih masyarakat awam tentang CPR (Perkins et al, 2012).Terdapat berbagai hal yang positif dan negatif dari metode sistem pelatihan per area ini. Hasil yang positif dari metode ini masyarakat dapat sangat mudah untuk menentukan tempat dan waktu pelatihan yang akan diikuti. Sehingga memudahkan dalam hal pencarian waktu yang tepat terkait padatnya aktivitas masyarakat. Hasil yang negatif dapat ditemukan perbedaan tingkat kemampuan dari peserta, karena kondisi dari satu area dengan area yang lain berbeda. Namun hal ini dapat diatasi dengan adanya standart yang diberlakukan pada jenis, media dan pelatih yang akan digunakan ditiap area.

Dari gambaran diatas sudah seharusnya Indonesia menerapkan peningkatan pelatihan bagi bystander CPR. Strategi yang dilakukan dengan penyingkatan waktu, efisien terhadap materi, penggunaan media teknologi, dan tepat sasaran pada kelompok tertentu. Saat ini di Indonesia yang belum terlaksana adalah penggunaan teknologi sebagai media pelatihan. Sudah seharusnya beralih dari clasical metode ke modern metode dengan pemanfaatan media elektronik. Penggunaan metode video dapat disesuaikan dengan kemampuan dari bystander CPR, misalnya pada siswa sekolah dengan pemutaran video tentang indikasi henti jantung, harus dibedakan dengan peserta yang dari kalangan pegawai menggunakan video tentang indikasi dan pelaksanaan dan juga harus disertai dengan praktek ke manikin orang atau manikin CPR. Pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan saja belum cukup bila sarana dan prasarana yang disediakan belum mencukupi, hal ini terkait sistem EMS yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik di Indonesia.

Pada tahap evaluasi dari pelatihan atau pun pelaksanaan dari bystander CPR dapat menggunakan sistem HOT (Hand Of Time). Kriteria hasil utama adalah hanya 5 menit HOT pada menikin CPR. Hasil yang kedua adalah mengevaluasi HOT, apakah HOT dilaksanakan pada set pertama pada kompresi dada atau akhir dari pelaksanaan kompresi dada. HOT disini mengindikasikan kurangnya kemauan bystander CPR dalam memberikan pertolongan pada henti jantung. Hal ini bisa dilihat bila pada pertengahan siklus CPR bystander melepaskan tangan sebagai wujud dari lelah, takut mencederai, atau kurang percaya diri dll. Berdasarkan hal ini lah proses pelatihan dapat memfokuskan arti dari HOT agar tetap terjadi recoil dari CPR sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan untuk memberikan oksegenasi pada paru, jantung dan otak (Rossler, 2013).
     
Kesimpulan
Pemberian bantuan hidup dasar (BLS) pada orang yang mengalami henti jantung berupa kompresi dada (CPR) yang dilakukan oleh bystander atau penolong saat menemui adanya serangan henti jantung sangat membantu kemungkinan bertahan hidup korban 2–3 kali lipat. Berdasarkan HIPGABI dalam pelatihanya disampaikan bahwa keterlambatan memberikan BLS dalam 1 menit kemungkinan berhasil 98–100%, 3 menit kemungkinan berhasil 50–100%, 10 menit kemungkinan berhasil 1–100%. Oleh karena itulah sangat dibutuhkan sekali peningkatan jumlah dan kesiapsiagaan bystander CPR untuk memberikan pertolongan pada korban henti jantung di situasi OHCA. Beberapa program clasical masih dapat dilakukan antara lain penyebaran informasi melalui media cetak ataupun penyuluhan di komunitas, tempat umum, tempat kerja, maupun sekolah. Program lainnya dengan pemanfaatan teknologi adalah dengan peningkatan keterampilan bystander CPR melalui metode pelatihan modern dengan pemanfaatan video dan e-learning. Hasil yang dievaluasi melalui sistem HOT (Hand Of Time) dengan mengobservasi pelaksanaan bystander CPR. Diharapkan hasil evaluasi dari HOT dapat menurun sehingga tercapai re-coil dinding dada.

Daftar Pustaka

GELS.(2011). Pelatihan GELS (General Emergency Life Support). Medis Teknis Standart. RSU Dr. Soetomo-FK UNAIR Surabaya.

HIPGABI.(2012). Kumpulan Materi Pelatihan Emergency Nursing. Intermediate Level. HIPGABI : Jakarta.

Nordberg, Paul et al. (2009). Aspects on the increase in bystander CPR in Sweden and its association with outcome. Published by Elsevier Ireland Ltd. doi:10.1016/j.resuscitation.2008.11.013

Perkins et al. (2012). Improving the Efficiency of Advanced Life Support Training. Ann Intern Med. 157. p: 19-28.

Rossler, B et al. (2013). Can a flowchart improve the quality of bystander cardiopulmonary resuscitation?. 2013 Elsevier Ireland Ltd. All rights reserved. http://dx.doi.org/10.1016/j.resuscitation.2013.01.001

Sasson, Comilla et al. (2013). Increasing cardiopulmonary resuscitation provision in communities with low bystander cardiopulmonary resuscitation rates. Circulation.127:1-9. DOI: 10.1161/CIR.0b013e318288b4dd.


Tanigawa, Kayo et al. (2011). Are trained individuals more likely to perform bystander CPR?. Elsevier Ireland Ltd. All rights reserved. doi:10.1016/j.resuscitation.2011.01.027

No comments:

Post a Comment